Pages

Diberdayakan oleh Blogger.
Memahami Al-Qur'an dan Sunnah menurut pemahaman para Salafusshalih

Cabut Duri di Hatimu

Kamis, 17 Desember 2015


Saudaraku...Saudariku Muslim dan Muslimah....
Salah omong 
Salah bertingkah 
Salah faham 
Itu semua wajar Biasa...
Namanya juga manusia... 

Kalau ada saudara kita yang minta maaf atas kesalahannya 

Hati yg besar akan mudah memberikan maaf 
Kemudian kalau dia mengulangi kesalahannya 
Kadang kita mulai enggan memaafkan 

Namun seharusnya kita tetap memaafkan Karena kitapun sering mengulangi kesalahan yang sama pada Allah 

Dan Allah tetap menerima kita 


SEAKAN DIRIMU TIDAK PERNAH BERBUAT SALAH ?


Bacalah dengan seksama hadits di bawah ini 

Dari 'Abdullah bin 'Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: 
.
( ﺀﺎﺟ ﻞﺟﺭ ﻰﻟﺇ ﻲﺒﻨﻟﺍ - ﻰﻠﺻ ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻴﻠﻋ ﻢﻠﺳﻭ - ﻝﺎﻘﻓ : ﺎﻳ ﻝﻮﺳﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﻢﻛ ﻮﻔﻌﻧ ﻦﻋ ؟ﻡﺩﺎﺨﻟﺍ ﺖﻤﺼﻓ ، ﻢﺛ ﺩﺎﻋﺃ ﻪﻴﻠﻋ ﻡﻼﻜﻟﺍ ﺖﻤﺼﻓ ، ﺎﻤﻠﻓ ﻥﺎﻛ ﻲﻓ ﺔﺜﻟﺎﺜﻟﺍ ﻝﺎﻗ : ﺍﻮﻔﻋﺍ ﻪﻨﻋ ﻲﻓ ﻞﻛ ﻡﻮﻳ ﻦﻴﻌﺒﺳ ﺓﺮﻣ ( ) ﻮﺑﺃ ﺩﻭﺍﺩ 
.
Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, lalu ia berkata: "Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, berapa kali kita memaafkan (kesalahan) pembantu?" 

Lalu beliau pun diam. Kemudian orang itu mengulang perkataannya

Dan Nabi pun masih terdiam. 

Lalu yang ketiga kalinya beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 

"Maafkanlah dia (pembantu) setiap hari tujuh puluh kali." 
(HR. Abu Dawud) 

Ingat 70 kali berbuat salah Kita seharusnya tetap memberi maaf 


MAAF ITU INDAH... 

DENDAM DAN SAKIT HATI ADALAH DURI DALAM HATI ...

DURI DI KAKI SAJA BUANG... 

APALAGI DI DALAM HATI...

📝 Oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, MA حفظه الله تعالى


🔊 [ 📖 ] BBG Al-Ilmu


Sumber Grup WA Kajian Ilmiyyah Depok

Silahkan kunjungi satucarajitu.blogspot.com untuk informasi lain yang bermanfaat.

'Sunnah' yang Wajib, 'Sunnah' yang Sunnah

✔🌟🌟

🔰"SUNNAH" YANG WAJIB, "SUNNAH" YANG SUNNAH🔰

----------------------------


Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al-‘Abbaad -hafidzhahullah- menyampaikan:


“Sesungguhnya syari’at Islam yang sempurna ini adalah sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam dalam makna yang umum. Dan sesungguhnya kata As-Sunnah itu dimutlakkan kepada empat makna:


⏩Pertama, semua yang datang dari Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam. Sunnah beliau di sini pengertiannya adalah jalan hidup beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam. Hal itu berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam, “Barangsiapa yang membenci sunnahku (ajaranku) maka ia bukan termasuk dari golonganku.” (HR. Al-Bukhari 5063 dan Muslim 1401)


⏩Kedua, As-Sunnah itu bisa bermakna Al-Hadits. Pengertian ini bila digandengkan dengan kata Al-Qur’an, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam, “Sesungguhnya aku telah meninggalkan kepada kalian dua perkara, (jika kalian berpegang teguh kepada dua perkara tersebut) kalian tidak akan sesat, yaitu Kitabullah dan Sunnahku.” (Al-Haakim dalam Mustadraknya 1/93). Sebagian Ulama juga ketika menyebutkan sebagian permasalahan mereka mengatakan, “Permasalahan ini telah ditunjukkan oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah serta Ijmaa’.


⏩Ketiga, As-Sunnah dimutlakkan pengertiannya jika berhadapan dengan kata Al-Bid’ah (yakni As-Sunnah lawan daripada Al-Bid’ah). Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam, “….Karena sesungguhnya barangsiapa yang masih hidup sepeninggal aku, maka ia akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian (ketika melihat perselisihan itu, -pent) berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para Khulafa’ur rasyidin Al-Mahdiyyin sepeninggalku, gigitlah ia (sunnah-sunnah itu, -pent) dengan gigi-gigi gerahammu, dan hati-hatilah kalian dari perkara yang baru dalam agama, karena setiap perkara yang baru dalam agama (bid’ah) itu sesat.” (HR. Abu Daawud 4607 dan ini lafalnya, At-Tirmidzi 2676, Ibnu Majah 43-44. At-Tirmidzi mengatakan hadits ini "Hasan Shahih").


Demikian pula sebagian Ulama mutaqaddimin dari kalangan Ahlul Hadits menamakan kitab-kitab mereka yang membahas tentang aqidah dengan istilah “As-Sunnah”. Seperti kitab As-Sunnah karya Muhammad bin Nashr Al-Mawarzi, As-Sunnah karya Ibnu Abi ‘Aashim, As-Sunnah karya Al-Laalikaa’i dan selain mereka. Dalam kitab Sunan Abu Daawud terdapat “Kitabus Sunnah” yang isinya meliputi hadits-hadits yang banyak berkaitan dengan pembahasan aqidah.


⏩Ke-empat, As-Sunnah dimutlakkan dengan makna ‘Manduub’ dan ‘Mustahaab’ yakni suatu perintah namun dalam konteks anjuran bukan sebagai kewajiban. As-Sunnah dalam pengertian seperti ini dimutlakkan oleh kalangan Fuqahaa’ (Ulama Ahli Fiqh). Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam, “Jika seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka bersiwak pada setiap kali hendak menunaikan shalat.” (HR. Al-Bukhari 887 dan Muslim 252). Maka perintah bersiwak dalam hadits ini ialah perintah yang bersifat anjuran, hanya saja ditinggalkan karena khawatir memberatkan umatnya jika hal tersebut sebagai kewajiban. (Al-Hats ‘alat Tibaa’is Sunnah wat Tahdzir minal Bida’ wa Bayaanu Khathariha” hal. 17-20)


Fikri Abul Hasan

WhatsApp المدرسة السلفية



♻Republished by MRA Al-Jafari Al-Alabi

📁Grup WA & TG Dakwah Islam
📩TG Bot : @DakwahIslam_Bot
🌐TG Channel : @DakwahIslam

Share yuk semoga teman anda mendapat faidah ilmu dari yang anda bagikan dan menjadi pembuka pintu amal kebaikan bagi anda. آمِينَ.


Sumber Grup WA Kajian Ilmiyyah Depok

Silahkan kunjungi satucarajitu.blogspot.com untuk informasi lain yang bermanfaat.

Renungan untuk orang baik

Renungan untuk orang baik........

MENGAPA ORANG BAIK SERING TERSAKIT  ?


Karena orang baik selalu mendahulukan orang lain. Dalam ruang kebahagiaannya, ia tak menyediakan untuk dirinya sendiri, kecuali hanya sedikit.


MENGAPA ORANG BAIK KERAP TERTIPU?


Karena orang baik selalu memandang orang lain tulus seperti dirinya. Ia tak menyisakan sedikitpun prasangka bahwa orang yang ia pandang penyayang mampu mengkhianatinya.


MENGAPA ORANG BAIK ACAP DINISTA?


Karena orang baik tak pernah mau membalas. Ia hanya menerima, meski bukan dia yang memulai perkara.


MENGAPA ORANG BAIK SERING MENETESKAN AIR MATA?


Karena orang baik tak ingin membagi kesedihannya. Ia terbiasa mengobati sendiri lukanya, dan percaya bahwa suatu masa Yang Maha Kuasa akan mengganti kesabarannya.


NAMUN ORANG BAIK TAK PERNAH MEMBENCI YANG MELUKAINYA.


Karena orang baik selalu memandang bahwa di atas semua, Yang Maha Kuasa lah hakikatnya. Jika orang tersebut digiring, bagaimana ia akan mendebat kehendak-NYA


Itu sebabnya orang baik tak memiliki almari dendam dalam kalbunya.

Jika kau buka laci-laci di hatinya, akan kau temukan hanya Cinta-Kasih yang dimilikinya.

"Anda pasti salah satu dari ORANG YANG BAIK itu...."


Semoga bermanfaat....


Sumber Grup WA Kajian Ilmiyyah Depok

Silahkan kunjungi satucarajitu.blogspot.com untuk informasi lain yang bermanfaat.

Bolehkah Menggantungkan Sebagian Ayat Al-Qur'an di Rumah


✒Asy Syaikh Ubaid bin Abdillah al Jabiry حفظه الله

📬 Pertanyaan: Bolehkah menggantungkan sebagian ayat Al-Qur’an di rumah? 


📬 Jawaban: Tidaklah Allah menurunkan kitab ini melainkan untuk dibaca dan membacanya dalam rangka ibadah, juga mentadabburinya kemudian mengamalkan ayat-ayat yang muhkam (jelas) dan beriman terhadap ayat-ayat mutasyabih (samar).


❌ Adapun penggunaan Al-Qur’an bukan pada perkara-perkara yang kita sebutkan, maka bisa jatuh pada tindakan perendahan terhadap Al-Qur’an.


✋🏻 Maka gantungan-gantungan yang dimaksud baik dari Al-Qur’an atau selainnya tidak memberikan faedah.


📢 Akan tetapi yang berfaedah adalah ketika memperhatikan ayat-ayat Al-Qur’an tersebut dalam rangka mencapai keridoan Allah subhanahu wa ta’ala dan sebagaimana yang kita sebutkan yaitu membaca, mentadabburi dan mengamalkan ayat muhkamnya serta beriman dengan yang mutasyabih.


📚 Sumber: http://ar.alnahj.net/fatwa/119


Sumber Grup WA Kajian Ilmiyyah Depok

Silahkan kunjungi satucarajitu.blogspot.com untuk informasi lain yang bermanfaat.

Bukan Sekedar Ucapan

Selasa, 15 Desember 2015

💌 BUKAN SEKEDAR UCAPAN

Dalam sholat mungkin kita sering membaca firman Allah:


قُلْ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ ﴿١﴾ ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ ﴿٢﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ﴿٣﴾ وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌۢ ﴿٤


Artinya:


1). Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa 

2). Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu 
3). Dia (Allah) tiada beranak dan tidak pula diperanakkan 
4). Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia

Lalu pantaskah lidah yang kita gunakan untuk membaca ayat-ayat tauhid tersebut kita gunakan untuk mengucapkan:


"Selamat atas kelahiran anak Tuhan'' 


?????


Sekali-kali tidak...

Lidah yang kita pakai untuk melafadzkan ayat-ayat  tauhid sangat tidak pantas kita gunakan untuk mengucapkan kata-kata syirik tersebut.

Bila ada yang mengatakan,  "Kan hanya sekedar basa-basi..!?"


Jawab kami "Maaf, tidak ada basa-basi dalam perkara kesyirikan".


"Berarti anda tidak toleran"


Jawab kami, "Anda ini bagaimana, di negeri mayoritas muslim seperti di negeri entah berantah mereka bebas membunyikan lonceng, merayakan natal dan sejumlah ritual keagamaan lainnya. apa masih kurang..?"


" Bagimu agamamu, bagiku agamaku"


📝 Oleh Ustadz Aan Candra Thalib حفظه الله تعالى


🔊 [ 📖 ] BBG Al-Ilmu


Sumber Grup WA Kajian Ilmiyyah Depok

Silahkan kunjungi satucarajitu.blogspot.com untuk informasi lain yang bermanfaat.

Islam Bukan Agama Prasmanan

🎂🍚🍪 ISLAM BUKAN AGAMA PRASMANAN

✏Oleh: Abdullah Zaen, Lc., MA


Prasmanan, adalah sebuah istilah yang tidak asing di telinga kebanyakan kita. Yakni cara menjamu makan dengan mempersilakan tamu mengambil dan memilih sendiri hidangan yang sudah ditata secara menarik di beberapa meja. Mana yang ia suka; ia ambil. Sebaliknya yang tidak ia suka; ia tinggalkan. Model penyajian makanan seperti ini banyak ditemukan dalam resepsi pernikahan dan yang semisal.

Prasmanan dalam pandangan Islam boleh-boleh saja. Tentu selama yang disajikan adalah makanan dan minuman yang halal, serta tidak berlebih-lebihan.

Lantas mengapa artikel ini berjudulkan, “Islam bukan agama prasmanan”?. Jawabannya karena sebagian kaum muslimin menyikapi ajaran Islam seperti prasmanan. Alias, mana ajaran yang ia suka; ia pakai. Adapun ajaran yang tidak ia sukai; maka ia tinggalkan.

Pola prasmanan dalam beragama seperti ini tidak bisa diterima dalam Islam. Allah ta’ala menegaskan,

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَاءُ مَن يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰ أَشَدِّ الْعَذَابِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ ﴿٨٥﴾

Artinya: “Apakah kalian mengimani sebagian isi Kitab lalu ingkar terhadap sebagian yang lain? Tidak ada balasan (yang pantas) bagi orang yang berbuat demikian di antara kalian, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia. Dan pada hari kiamat kelak mereka akan dimasukkan ke dalam azab neraka yang sangat pedih. Allah sama sekali tidak lengah mencatat semua perbuatan kalian.” QS. Al-Baqarah (2): 85.

Islam adalah pedoman hidup yang lengkap dan sempurna. Allah ta’ala mengaruniakannya kepada kita, untuk mengatur seluruh aspek kehidupan. Oleh karena itu, maka kita harus menerima dan berusaha mengamalkan seluruh ajaran Islam. Tidak boleh kita ambil setengah-setengah. Dalam arti salah satu ajarannya kita amalkan, sementara ajarannya yang lain kita tolak.

Banyak orang ketika shalat menggunakan tata cara Islam, tapi sayang ketika berbisnis ia tidak mau diatur oleh Islam. Ada yang dalam berhaji memakai fikih Islam, namun saat berideologi dan berkeyakinan, ia memilih untuk mengadopsi akidah agama lain.

Ada juga yang saat berpuasa konsisten dengan tata cara Islam; tidak makan, tidak minum dan tidak berdusta. Tapi saat berpolitik ia tak mau berpegang teguh dengan ajaran Islam, sehingga menghalalkan segala cara. Berdusta dengan topeng pencitraan, memfitnah, menyuap, melakukan money politic, bermain culas dan berkorupsi. Amat disayangkan, banyak yang punya anggapan, “Ini adalah masalah politik, bukan urusan agama”. Seakan-akan kalau berpolitik lalu boleh menghalalkan segala cara.

Padahal sesungguhnya Islam, sebagaimana mengatur tata cara shalat dan puasa, Islam juga mengatur tentang etika berbisnis dan mengatur urusan negara. Islam sebagaimana mengatur tentang keimanan dan ibadah, juga mengatur tentang hukum dan tata cara berbusana. Pendek kata, Islam itu mengatur manusia dari bangun tidur hingga tidur lagi, bahkan ketika tidur. Mengatur manusia dari lahir hingga menguburnya saat mati. Islam mengatur mulai dari masuk kamar mandi hingga mengatur bangsa dan negara, bahkan dunia.

Beragama secara parsialitas, itu adalah salah satu trik setan dalam menyesatkan bani Adam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, masuk Islamlah kalian secara kâffah (totalitas), dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian”. QS. Al-Baqarah (2): 208.

Mari kita tinggalkan pola prasmanan dalam beragama! Sebab Islam bukan agama prasmanan…


@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 15 Shafar 1437 / 27 November 2015



🌐Sumber:  TunasIlmuCom


---(*)--- 

  
📝 Repost: WA Dakwah "MUTIARA HIKMAH"

Sumber Grup WA Kajian Ilmiyyah Depok

Silahkan kunjungi satucarajitu.blogspot.com untuk informasi lain yang bermanfaat.

Sampaikan Kebenaran, Sekalipun itu Berat

🔊 SAMPAIKAN KEBENARAN, SEKALIPUN ITU BERAT DAN DITUDUH MEMECAH-BELAH
 📶 


Berkata Muhammad bin Bundar Al-Jurjani, "Aku berkata kepada Imam Ahmad : 


'Sesungguhnya berat bagikku untuk mengatakan: si fulan lemah, si fulan pendusta besar'.


Imam Ahmad menjawab:


'Jika engkau diam, dan aku juga diam, lalu siapa yang memberitahu orang jahil yang shahih dari yang lemah?"


📚 (Syarah Ilal Tirmidzi; 1/350)


Sumber Grup WA Kajian Ilmiyyah Depok

Silahkan kunjungi satucarajitu.blogspot.com untuk informasi lain yang bermanfaat.
 
Flag Counter

Most Reading

Sidebar One